WONOSOBO – Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, mendorong penguatan kesiapsiagaan masyarakat melalui pemanfaatan kearifan lokal, termasuk menghidupkan kembali tradisi kentongan sebagai sistem peringatan dini di permukiman padat dan pedesaan.
“Dulu, setiap rumah memiliki kentongan sebagai penanda bila terjadi kebakaran atau kondisi darurat lainnya. Tradisi sederhana ini efektif membangun kewaspadaan sekaligus memperkuat kebersamaan warga,” ujar Afif saat menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran di Desa Banyukembar, Watumalang, dan Desa Siwuran, Garung, Selasa (13/1).
Bupati menekankan bahwa meski saat ini masyarakat telah menggunakan pengeras suara masjid atau sirine, keberadaan kentongan tetap relevan sebagai pelengkap sistem peringatan dini. “Penguatan sistem berbasis kearifan lokal akan mempercepat respons warga terhadap bencana dan sekaligus memperkuat budaya gotong royong,” tambahnya.
Bantuan yang disalurkan merupakan bagian dari pendayagunaan zakat, infak, dan sedekah oleh masyarakat melalui Baznas Kabupaten Wonosobo. Ketua Baznas, Priyo Purwanto, menegaskan bahwa program ini bertujuan memastikan warga terdampak musibah tidak merasa sendiri.
Baznas menyalurkan bantuan sebesar Rp10 juta kepada Kaswono, warga Dusun Krangean Wetan, Desa Banyukembar, yang rumahnya terbakar akibat sisa bara tungku kayu saat produksi tempe. Selain itu, rehabilitasi sebesar Rp5 juta diberikan kepada Sutrisno, warga Dusun Bakalan, Desa Siwuran, yang rumahnya hangus karena korsleting listrik.
Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah daerah memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern untuk mitigasi bencana, sekaligus mengoptimalkan peran lembaga zakat sebagai penopang bantuan sosial. Pemanfaatan tradisi seperti kentongan tidak hanya menumbuhkan kewaspadaan, tetapi juga memperkuat solidaritas masyarakat di tengah risiko bencana yang masih mengintai.


