PATI — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati, Jawa Tengah, mengklaim berhasil menembus target produktivitas padi 10 ton per hektare melalui program “1 hektare 10 ton”. Pada panen raya di Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong, Sabtu (8/2/2026), hasil pengecekan menunjukkan capaian 10,28 ton per hektare, melampaui patokan yang selama ini dikejar pemerintah daerah.
Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menilai capaian tersebut menjadi indikator bahwa target swasembada pangan berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah pusat menuju 2027 dapat ditopang dari tingkat daerah. Ia menekankan hasil panen tidak datang karena faktor kebetulan, melainkan akibat pendampingan pertanian yang dilakukan secara intensif dan berjenjang dari level kabupaten hingga desa.
“Kegiatan hari ini membuktikan program satu hektare sepuluh ton di Desa Bumiharjo benar-benar membuahkan hasil. Setelah dilakukan pengecekan, hasilnya mencapai 10,28 ton. Ini adalah hasil kerja luar biasa dari tim pertanian, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa yang terus melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada petani,” ujar Risma saat meninjau lokasi panen raya.
Pemkab Pati menyebut salah satu pendorong lonjakan produktivitas berada pada manajemen pemupukan yang lebih presisi. Petani didorong mengkombinasikan pupuk bersubsidi dengan pupuk pendukung secara tepat guna, sehingga kebutuhan hara tanaman lebih terukur dan efisiensi budidaya meningkat. Menurut pemkab, pendekatan tersebut membuat produktivitas yang sebelumnya berkisar lima hingga tujuh ton per hektare melonjak ke level di atas 10 ton.
Keberhasilan itu mendapat apresiasi anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo. Ia menilai inisiatif Pemkab Pati sejalan dengan agenda ketahanan pangan nasional yang ditegaskan Presiden Prabowo Subianto dan berpotensi mempercepat laju pencapaian swasembada. Firman juga menyebut stok beras nasional pada awal tahun ini berada di angka 3,32 juta ton.
Meski demikian, Firman mengingatkan keberlanjutan program harus dijaga dengan mengantisipasi risiko gagal panen akibat anomali cuaca. Ia menekankan pentingnya perlindungan bagi petani, terutama di wilayah rawan bencana, serta mendorong Kementerian Pertanian segera menyalurkan bibit padi dan dana stimulan bagi petani terdampak banjir.
Firman menilai kerugian pertanian akibat bencana alam dapat mencapai ratusan miliar rupiah, sehingga intervensi penting agar petani bisa menanam lagi dan pasokan beras tidak terputus. Ia berharap praktik Pati direplikasi daerah lain lewat sinergi pusat daerah.


