BANYUMAS – Sekitar 100 warga Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang, menggelar aksi damai menolak aktivitas pertambangan di kaki Gunung Slamet, tepatnya di wilayah Desa Gandatapa. Warga menilai aktivitas tambang yang dilakukan di area perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus itu telah merusak lingkungan sekitar.
Aksi penolakan ini dilakukan dengan pengecekan kondisi lahan yang rusak akibat penambangan pasir hitam, diikuti dengan pemasangan spanduk penolakan di pagar dan pintu masuk area tambang. Eka Wisnu, Koordinator Aliansi, mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas warga Sumbang terhadap dampak negatif yang dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Gandatapa.
“Kami bukan menolak kebijakan pemerintah, tetapi kami mempertimbangkan dampak jangka panjang dari aktivitas pertambangan ini terhadap lingkungan dan generasi mendatang,” tegas Eka.
Penolakan ini berakar dari dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat setempat, seperti kerusakan infrastruktur jalan yang cepat rusak akibat aktivitas kendaraan berat yang melintas dari kawasan tambang. Eka mengungkapkan bahwa jalan yang baru saja diperbaiki kini kembali rusak, namun pihak tambang tidak pernah melakukan perbaikan, melainkan hanya menunggu anggaran dari pemerintah.
Selain itu, penurunan debit air menjadi keluhan serius lainnya bagi warga. Penurunan debit air ini berpengaruh besar terhadap kebutuhan rumah tangga dan pertanian, yang jika dibiarkan akan semakin memburuk seiring berlanjutnya aktivitas pertambangan tanpa pengawasan yang ketat.
Meskipun ada tanda peringatan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup mengenai pengawasan di area tersebut, aktivitas tambang tetap berlanjut seperti biasa. Eka Wisnu mengungkapkan kekecewaannya terhadap pengawasan yang dianggap tidak efektif.
“Pengawasan dari KLH ada, tapi aktivitas penambangan tetap berjalan. Kami bukan alergi terhadap aturan, tapi yang kami pertimbangkan adalah efek dan dampak jangka panjangnya,” ujar Eka.
Harapan utama warga yang tergabung dalam aliansi ini adalah penutupan total aktivitas tambang di wilayah tersebut. Mereka menganggap penutupan sementara yang pernah diterapkan di lokasi lain tidak cukup untuk mengatasi keresahan yang ada.
“Harapan dari warga, tambang ini ditutup total. Sampai sekarang belum ada tindakan penutupan yang tegas, aktivitas masih berjalan,” tegasnya.


